Jogja (bagian 1)

Menolak, dengan vulgar

tidak beretika namun jelas

 

Bukan mengunci, cuma belum

belum ada

 

Hidup hanya sementara,

untuk apa cemas tidak punya apa-apa?

 

Berkelana, mengistirahatkan jiwa

mengubur benih yang kering

 

Berjanjilah, ini halaman terakhir

untuk bab ini

 

Setelahnya,

aku puas untuk harapan yang aku jadikan

bersama kenangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s